Saya seorang mahasiswa semester akhir
di salah satu sekolah pascasarjana di Indonesia, menjadi seorang mahasiswa
semester akhir tentu tugas penelitian dan menuangkanya ke dalam suatu karya
ilmiah adalah suatu kewajiban yang sudah lumrah di dunia akademisi. Banyak
orang bilang “penelitian itu
gampang-gampang sulit, mulai dari jatuh bangun dalam kegagalan eksperimen,
sampai terpuruk dalam ilusi kemalasan”. Ya sepertinya benar sekali, saya pribadi
mengalami hal yang serupa. Setelah pergulatan panjang dengan tema penelitian,
akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tema “Biodiversitas Ikhtiologi khususnya di Perairan Umum”, kebetulan saya tergabung
dalam project “Ekspedisi Bufferzone Resort
Suo-Suo, Taman Nasional Bukit Tigapuluh” setahun yang lalu.
Mulai dari tema project saja tentu
kita sudah terbayang apa yang akan saya lakukan dan bagaimana medan perjalanannya.
Ya tepat sekali, saya menelusi sungai sepanjang hutan rimba, turun naik bukit nan
terjal dari musim kemarau sampai musim hujan, menurut rumornya sih bentang alam
Sumatera yang satu ini paling tidak terdapat 30 bukit berturut-turut, karena
itu disebut “Bukit Tigapuluh”. Dalam kegiatan
ekspedisi alam seperti ini, salah satu hal yang harus kita persiapkan adalah kebugaran
fisik dan tentunya kebugaran fisik itu juga dipengaruhi oleh seberapa berat ransel
atau carrier yang
kita bawa, karena itu kita harus pandai dan jeli dalam memilih barang-barang
mana saja yang menjadi prioritas dibawa dan tidak dibawa. Jika kita tidak jeli
dalam memilih barang-barang prioritas, maka yakinlah beban ransel atau carrier kita akan
menyulitkan kita sendiri saat perjalanan.
Mengenai beban ransel
atau carrier, saya pribadi punya pengalaman tersendiri. Dalam
kegiatan ekspedisi riset seperti ini, tentu perangkat seperti laptop dan tab wajib
dibawa, saat itu saya hanya memiliki laptop berukuran 14” dan itu pun laptop
model lama, kalian tentu tahu bagaimana spesifikasi laptop model lama, beratnya
saja nyaris 2 Kg lebih belum lagi ditambah tab dan perlengkapan yang lain. Saat itu rasanya saya pengen nangis dan pingsan “menggendong” carrier sambil terbungkuk-bungkuk. Mulai saat itu saya paham
bahwa didalam perjalanan panjang dengan medan alam yang sulit, beban ransel atau carrier sangat wajib
diperhitungkan, karena selisih 1 gram saja, maka akan terasa sangat berat saat
membawanya.
Selain sebagai seorang mahasiswa, saya
juga melakoni pekerjaan bidang pendampingan dan pemberdayaan masyarakat disalah
satu program kementerian pusat. Sebagai “Fasilitator”
atau “Tenaga Pendamping” saya
diharuskan berkeliling mengunjungi masyarakat daerah-daerah yang menjadi lokasi
program tersebut untuk melakukan pembinaan atau pelatihan. Tidak jarang saya
mendapat daerah terpelosok yang akses dan medannya sangat memprihatinkan. Jangankan
sinyal, akses transportasi dan listrik pun masih sangat sulit, ya nyaris sama
seperti kondisi saat saya menjadi peneliti.
| Foto kegiatan PRO-PESISIR dibawah KKP dan DFW-Indonesia (sumber: Indra, 2016) |
Sebenarnya saat ini saya memang sedang
mencari laptop untuk sebagai partner dalam berpetualang dan berkarya,
karena beberapa minggu yang lalu laptop lama saya mengalami kerusakan, ya
mungkin terhempas saat perahu yang saya tumpangi terguncang gelombang saat
menyeberangi laut lokasi tugas saya. Melihat ada seorang teman yang mengikuti
competition acer “SwitchableMe”, perhatian
saya langsung terfokus ke produk notebook acer yang diusung yaitu “Acer Switch
Alpha 12” yang sepertinya aduhai, pinter dan seksi. Jujur saja, saya bukan orang yang biasa menulis di blog dan ini adalah kali pertamanya, ya boleh dibilang amatiranlah dengan blog baru yang saya namai "Corgito ergo sum". Tujuannya pun bukan untuk menang, namun sekedar mengungkapkan isi hati saja kenapa akhirnya saya memilih “Acer Switch
Alpha 12” ini.
Sepintas saya perhatikan notebook
besutan acer kali ini memang sangat menarik. Trend pasar notebook 2in1, atau
yang sering pula disebut dengan notebook
hybrid, khususnya di Indonesia akhir-akhir ini memang sedang naik
daun. Acer sendiri mengeluarkan produk terbarunya di kelas premium, tidak
tanggung-tanggung Acer menanamkan spesifikasi kelas atas pada perangkat
berdimensi 292 x 201 x 15 mm ini. Ada dua varian yang mungkin bisa
dipertimbangkan, pertama menggunakan prosesor Intel Core i7 6500U dengan storage SSD 512 GB dan memory RAM 8GB yang
dibanderol dengan harga Rp19.999.000.
Sedangkan varian lainnya menggunakan prosesor Intel Core i5 6200U dengan storage SSD 256 GB dan memory RAM 4 GB dibanderol
dengan harga Rp13.799.000.
![]() |
| Model Acer Switch Alpha 12 dan spesifikasinya berdasarkan varian (sumber: http://www.acerid.com, 2016) |
Acer Switch Alpha 12 ini menggunakan layar berukuran 12 inci dengan panel IPS dan resolusi qHD 2160 x 1440 dan telah didukung mode pengoperasian layar sentuh. Acer juga turut membenamkan beberapa fitur konektivitas berupa 802.11 AC dan Bluetooth v4, serta kamera depan 2 MP dan belakang 5 MP. Dengan begitu sangat cocok sekali buat saya yang selalu mengalami masalah dengan isi ransel, gabut dan repot bawa laptop untuk laporan dan tab untuk membaca materi dan dokumentasi kegiatan.
Sungguh spesifikasi yang luar biasa, sebagai seorang mahasiswa, fasilitator dan petualang yang memiliki mobilitas dan segudang pekerjaan, rasanya notebook ini adalah pilihan yang tepat sebagai partner. Ukurannya yang molek dan tipis yang tentunya akan membuat saya tidak merasa berat dan ribet lagi dalam membawa seperangkat kerja plus hobi 2in1 dalam satu paket terutama untuk perjalanan jauh, selain itu spesifikasinya yang tinggi sangat mendukung aplikasi-aplikasi grafis tools yang menunjang profesi saya.
Tidak hanya itu, Switch Alpha 12 mengadopsi
teknologi terbaru Acer pada notebook 2in1 yaitu LiquidLoop. Sistem ini mampu
menghadirkan pendingin yang bisa menstabilkan suhu mesin laptop tanpa kipas, yang digunakan adalah cairan pendingin yang tidak menimbulkan suara bising
sehingga saya bisa nyaman membuat laporan dan tugas di mobil atau kapal tanpa khawatir
terganggu suara mesin laptop dan cepat overheating
saat dipangku.
Sedangkan untuk daya tahan, laptop
2in1 ini sudah dilengkapi baterai berkapasitas 4.870 mAh dan diklaim dapat bertahan
hingga 8 jam ketika kita menonton film Full HD secara terus menerus. Ya lumayanlah
bisa buat berseluncur di media sosial, nonton dan nge-game saat mengisi waktu kosong dalam perjalanan.
Memang tidak bisa dimungkiri di dunia kerja era trand digital saat ini, kita dituntut untuk bekerja lebih fleksibel
dan dinamis. Ya memanfaatkan setiap tempat sebagai tempat kerja, bekerja tak lagi terasa kaku
dengan aturan office hour. Sepertinya
gaya hidup ‘Switchable
Me’ seperti ini tentu saja terasa sangat nyaman untuk mendukung
pekerjaan dan passion secara rutin. Saya bisa “switch”
dari kesibukan laporan dan presentasi ke hobi berpetualang yang saya geluti, ataupun
sebaliknya. Indeed, you are
a multitasking person in digital world!.
Tulisan ini coba diikut serta meramaikan story competition bertemakan “Switchable Me” di “Switchable Me Story Competition”, ya itung-itung belajar nulis di blog dan semoga menjadi hoby tambahan yang tentunya positif dan produktif.
Daftar Pustaka
http://gadgetplus.id/acer-switch-alpha-12-resmi-hadir-di-indonesia-berapa-harganya/
http://www.acerid.com/
Tulisan ini coba diikut serta meramaikan story competition bertemakan “Switchable Me” di “Switchable Me Story Competition”, ya itung-itung belajar nulis di blog dan semoga menjadi hoby tambahan yang tentunya positif dan produktif.
Daftar Pustaka
http://gadgetplus.id/acer-switch-alpha-12-resmi-hadir-di-indonesia-berapa-harganya/
http://www.acerid.com/



